Regulasi - Kebijakan Penanaman Modal



RINGKASAN EKSEKUTIF

NASKAH AKADEMIS RENCANA UMUM PENANAMAN MODAL PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

TAHUN 2016-2025

(Kajian Potensi Daerah)


 

Tujuan penyusunan Naskah Akademis Rencana Umum Penanaman Modal (RUPM) Provinsi Kalimantan Selatan ini adalah untuk memberikan gambaran secara komprehensif kondisi umum, potensi, dan perkembangan penanaman modal serta  memberikan gambaran kondisi kelembagaan penanaman modal dengan juga mengindikasikan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam pembangunan di bidang penanaman modal, sehingga dapat memberikan usulan kebijakan dan strategi yang sebaiknya diambil dalam pembangunan di bidang penanaman modal di Provinsi Kalimantan Selatan.

 

Naskah akademis RUPM Provinsi Kalimantan Selatan ini disusun dengan prinsip partisipatif, transparan dan bertanggungjawab dalam kaidah akademik. Dengan melibatkan semua pihak terkait dan yang berkepentingan baik pada Forum FGD (Focus Group Discussion) maupun informasi dan data serta menggunakan alat analisis yang relevan untuk menajamkan analisis. Alat analisis yang digunakan selain menganalisa secara deskriptif data-data dari sumber resmi yang relevan, juga menggunakan alat-alat analisis pendekatan-pendekatan akademik dengan menggunakan Tipologi Klassen (Klassen Typology) serta Analisis Ekonomi Basis dengan Metode LQ (Location Quotient) dan Shift-Share.

 

Manfaat yang diharapkan dari disusunnya naskah akademis ini adalah untuk dapat menjadi acuan dalam utama dalam perumusan Rencana Umum Penanaman Modal (RUPM) Provinsi Kalimantan Selatan. Sehingga dengan RUPM Provinsi Kalimantan Selatan yang nantinya dirumuskan, akan tersedia perencanaan penanaman modal yang bersifat jangka panjang di tingkat Provinsi Kalimantan Selatan sebagai bahan evaluasi dan perencanaan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dalam menyusun kebijakan terkait, serta menjadi landasan dan acuan bagi perumusan Rencana Umum Penanaman Modal Kabupaten/Kota (RUPMK) bagi pemerintah kabupaten/kota yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan.

 

Kondisi Perekonomian Kalimantan Selatan

Di tengah situasi perekonomian dunia yang semakin dinamis dan kompetitif, serta adanya perubahan mendasar menyusul krisis keuangan dan ekonomi global saat ini memberikan dampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Tidak terkecuali memberikan dampak kepada perekonomian Kalimantan Selatan yang juga melambat karena lapangan usaha pertambangan dan penggalian khususnya batubara yang menjadi sumber pertumbuhan selama ini. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan tahun 2011-2014 yang mengalami tren melambat dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 5,79% per tahun. Perlambatan terjadi sejak tahun 2012, yaitu dari 6,97% pada tahun 2011 menjadi 5,97%, dan pada periode setelahnya, laju pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan terus melambat menjadi 4,85% pada tahun 2014. Hingga triwulan III-2015 (c-to-c), perekonomian Kalimantan Selatan secara kumulatif sudah tumbuh mencapai 3,63% dibandingkan dengan periode yang sama selama 2014 (5,12%).

Kondisi perlambatan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan ini tidak terlepas dari kontribusi perlambatan pertumbuhan kabupaten-kabupaten yang memiliki postur perekomian yang juga ditopang oleh lapangan usaha terutama pertambangan batubara dalam kurun waktu 2011-2014 ini, yaitu kabupaten: Tanah Laut; Kotabaru; Banjar; Tapin; Tabalong; Tanah Bumbu; dan Balangan. Dimana kabupaten-kabupaten ini memberikan kontribusi pertumbuhan terhadap PDRB Kalimantan Selatan tahun 2014 sebesar 66,00%.

 

Untuk Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah pada periode 2011-2014 dapat dikatakan mengalami rata-rata pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil dengan penopang pertumbuhan sektor ekonomi primer, sekunder dan tersier yang relatif merata. Sedangkan Kabupaten Hulu Sungai Utara sedikit mengalami tren pertumbuhan menurun. Kondisi yang berbeda ditunjukkan oleh Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang mengalami kecenderungan tren rata-rata pertumbuhan meningkat, dimana kondisi ini dipicu pangsa lapangan usaha pertambangan batubara yang tertinggi dalam empat tahun terakhir, namun kontribusinya rata-rata masih di bawah 10%.

 

Sedangkan Kota Banjarmasin sebagai ibukota provinsi dan Kota Banjarbaru sebagai pusat pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan mempunyai karakteristik pangsa sumber pertumbuhan sebagaimana umumnya karakteristik kota, yaitu sumber pertumbuhan tersebar di sektor sekunder dan tersier. Dalam kurun waktu 2011-2014 penopang pertumbuhan ekonomi Kota Banjarmasin adalah sektor tersier, dimana sektor ini berkembang pesat di Banjarmasin. Pada Kota Banjarbaru sumber pertumbuhan juga ditopang oleh sektor yang umumnya menjadi penciri kota dengan sumberdaya alam yang terbatas, yaitu sektor sekunder dan tersier.

 

Pertumbuhan investasi total di Kalimantan Selatan selama kurun waktu 2011-2014 fluktuatif dengan kecenderungan menurun seiring dengan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan yang juga melambat. Rata-rata pertumbuhan investasi total di Kalimantan Selatan tahun 2011-2014 adalah sebesar 12,62% per tahun, dimana pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2012 (16,82%) dan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2013 (1,93%). Perlambatan pertumbuhan ekonomi yang terus terjadi sampai tahun 2015 juga memberikan dampak melambatnya pertumbuhan investasi di Kalimantan Selatan sebesar 4,92% (yoy) pada triwulan II-2015, dibandingkan dengan triwulan II-2014 yang tumbuh sebesar 5,58%. Namun dilihat dari sisi peranan investasi total terhadap pembentukan PDRB dapat dikatakan relatif stabil pada kisaran 20-24 persen. Dapat disimpulkan bahwa iklim investasi di Kalimantan Selatan cukup baik di tengah kondisi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan maupun nasional yang cenderung melambat.

 

Pertumbuhan PMA (Penanaman Modal Asing) dan PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) di Kalimantan Selatan dari tahun 2010 sampai dengan 2014 menunjukkan tren menurun, dimana pertumbuhan positif terjadi pada periode 2010-2013 dengan rata-rata pertumbuhan 44,45%, yang kemudian tumbuh negatif pada periode 2013-2014 sebesar -22,13%. Sedangkan Jika dilihat berdasarkan rata-rata penanaman modal sektoral (primer, sekunder, dan tersier) pada tahun 2010-2014, PMA di Kalimantan Selatan tersebar pada seluruh sektor dengan terbesar pada sektor sekunder yang pada tahun 2014 dengan proporsi sebesar yaitu 90,87%. Sedangkan pada PMDN terkonsentrasi berada di sektor sekunder dan tersier yang mencapai 97,04% dengan proporsi terbesar pada sektor sekunder (56,09%), namun untuk pertumbuhan sektor tersier mengalami pertumbuhan positif.

 

Potensi Penanaman Modal di Provinsi Kalimantan Selatan

Posisi strategis wilayah/kawasan terkait komoditas unggulan sebagai potensi penanaman modal Provinsi Kalimantan Selatan adalah merujuk kepada: UU Nomor 23 Tahun 2014; Raperda RTRW Provinsi Kalimantan Selatan; kegiatan-kegiatan strategis yang dicanangkan dalam RPJMN 2015-2019; komitmen pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota Kalimantan Selatan dan komitmen pemerintah pusat. Maka untuk pengembangan pusat-pusat pertumbuhan strategis dalam kerangka pengembangan penanaman modal yang relatif mudah dan cepat menghasilkan (quick wins and low hanging fruits) terutama pada periode 2016-2025 adalah:

1.     Kawasan Industri Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kawasan Strategis Provinsi (KSP) Industri Jorong dan Pelabuhan Swarangan Pelaihari di Kabupaten Tanah Laut termasuk dalam Kawasan Industri Quick Wins (Prioritas).

2.     Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mekar Putih Kabupaten Kotabaru.

3.     Kawasan Lingkungan Industri Kecil (LIK) di Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru.

4.     Kawasan Minapolitan berdasarkan Kepmen Kelautan dan Perikanan Nomor 39 Tahun 2011, yaitu di: Kabupaten Banjar; Kabupaten Hulu Sungai Utara; Kabupaten Tabalong; Kabupaten Kotabaru; Kabupaten Tanah Laut; dan Kabupaten Tanah Bumbu.

5.     Potensi sumberdaya mineral dan batubara hampir tersebar di seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Selatan, kecuali Kota Banjarmasin. Selain batubara dan CBM (Coal Bed Methane), terdapat potensi sumberdaya mineral (pertambangan umum) lainnya, yaitu besi laterit, besi primer, emas plaser, emas primer, kromit, mangan, dan platina.

 

Potensi penanaman modal berbasis komoditas terkait wilayah di Provinsi Kalimantan Selatan adalah lapangan usaha pertanian tanaman perkebunan, peternakan serta perikanan dan kelautan. Tidak hanya pada intensifikasi dan ekstensifikasi pengelolaan komoditas, tetapi juga potensi untuk industri pengolahan lanjutan komoditas pertanian tanaman perkebunan, peternakan serta perikanan dan kelautan masih terbuka lebar untuk wujud komoditas yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.

 

Isu Strategis Terkait Penanaman Modal di Provinsi Kalimantan Selatan

Beberapa faktor kekuatan penanaman modal di Provinsi Kalimantan Selatan adalah: (1) kejelasan visi jangka panjang Kalimantan Selatan 2025; (2) ketersediaan lahan dan komoditi unggulan; (3) kondusifnya situasi sosial masyarakat dan keamanan; (4) wilayah bebas dan ancaman gempa bumi dan letusan gurung merapi; (5) kesiapan kelembagaan penanaman modal; dan (6) kesiapan aparatur pemerintah yang berkompeten.

 

Untuk beberapa faktor kelemahan penanaman modal di Provinsi Kalimantan Selatan adalah: (1) keunggulan wilayah masih bersifat komparatif; (2) infrastruktur belum merata dan optimal; (3) ketidakmerataan penanaman modal; (4) terbatasnya kualitas sumberdaya manusia terampil; (5) RTRW Provinsi belum tuntas; (6) standarisasi pelayanan penanaman modal.

 

Sedangkan beberapa faktor peluang penanaman modal di Provinsi Kalimantan Selatan adalah: (1) kebijakan pemerintah pusat pro investasi; (2) regulasi pembangunan kawasan; (3) regulasi percepatan pembangunan; (4) respon positif atas pembangunan yang ramah lingkungan; dan (5) potensi pengembangan energi baru dan terbarukan.

 

Untuk beberapa ancaman penanaman modal di Provinsi Kalimantan Selatan adalah: (1) dampak eksploitasi kegiatan pertambangan dan penggalian yang berjalan akan mendegradasi lingkungan; (2) bencana banjir; (3) bencana kebakaran lahan/hutan; (4) meningkatnya daya saing investasi diantara wilayah di Kalimantan; dan (5) meningkatnya daya saing investasi serupa di negara-negara tetangga.

 

Dari beberapa perspektif tersebut maka isu strategis penanaman modal di Provinsi Kalimantan Selatan adalah:

§   Peningkatan dan percepatan kuantitas dan kualitas penanaman modal dalam rangka mewujudkan iklim penanaman modal yang berdaya saing untuk menunjang kualitas perekonomian nasional.

§   Optimalisasi penanaman modal sektor pertambangan dan penggalian dengan memperhatikan daya dukung lingkungan.

§   Peningkatan realisasi penanaman modal kepada hilirisasi industri (sektor sekunder) berbasis produk-produk pertanian dalam arti luas (termasuk perkebunan, peternakan, dan perikanan) serta kehutanan yang berorientasi agribisnis untuk pengembangan agroindustri, ketahanan pangan, dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

§   Peningkatan pengembangan produk-produk unggulan daerah dengan penyediaan informasi potensi unggulan daerah untuk menjadi produk unggulan yang memiliki nilai tambah yang tinggi dalam rangka meningkatkan daya saing usaha, menciptakan lapangan kerja, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

§   Peningkatan profesionalitas kelembagaan penanaman modal untuk menjadi koordinator dan fasilitator penanaman modal yang handal dan solid dalam rangka merealisasikan potensi ekonomi menjadi kekuatan ekonomi nyata dari para investor dalam dan luar negeri yang berminat ber-investasi.

 


 

Visi dan Misi RUPM Provinsi Kalimantan Selatan

Visi Rencana Umum Penanaman Modal (RUPM) Provinsi Kalimantan Selatan 2016-2025 adalah “Penanaman Modal yang Berkelanjutan Menuju Kalimantan Selatan 2025 Maju dan Sejahtera sebagai Wilayah Perdagangan dan Jasa Berbasis Agroindustri”.

 

Visi “Penanaman Modal yang Berkelanjutan” mengandung makna bahwa penanaman modal sebagai salah satu bagian pembangunan ekonomi adalah penanaman modal untuk memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka (pemerataan manfaat hasil-hasil pembangunan antar generasi) dalam rangka mewujudkan iklim penanaman modal yang tetap memiliki daya saing untuk menunjang kualitas perekonomian nasional yang berkelanjutan.

 

Visi “Maju dan Sejahtera” mengandung makna bahwa dalam 10 tahun mendatang Provinsi Kalimantan Selatan memiliki sumberdaya yang handal dan fondasi ekonomi yang kuat serta dapat memberikan kesempatan yang secara relatif seimbang pada semua lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan dan menikmati hasil-hasilnya. Sedangkan visi “Perdagangan dan Jasa Berbasis Agro Industri” mengandung makna bahwa pembangunan yang dilaksanakan berorientasi pada perdagangan dan jasa dengan menumbuhkan agroindustri sebagai pilar utama. Optimalisasi nilai tambah dicapai dengan pola industri yang berintegrasi langsung dengan usaha tani keluarga dan perusahaan pertanian.

 

Untuk mewujudkan Visi RUPM Provinsi Kalimantan Selatan 2016-2025 tersebut, Misi yang akan ditempuh adalah:

1.     Meningkatkan koordinasi dan fasilitasi penanaman modal dengan sistem pelayanan perizinan yang handal dan terintegrasi berbasis teknologi informasi;

2.     Mempertajam perencanaan penanaman modal sesuai dengan potensi dan kondisi daerah;

3.     Menetapkan pemberian fasilitas/insentif penanaman modal yang sinergis antara provinsi dengan kabupaten/kota sesuai kewenangan provinsi dan kabupaten/kota;

4.     Meningkatkan kuantitas dan kualitas promosi penanaman modal yang memiliki daya tarik dan daya saing tinggi;

5.     Meningkatkan kerjasama yang sinergis dan tepat sasaran dengan institusi penanaman modal di kabupaten/kota;

6.     Meningkatkan pengendalian pelaksanaan modal yang menjadi kewenangan provinsi;

7.     Meningkatkan pengelolaan data dan informasi perizinan dan nonperizinan penanaman modal yang terintegrasi pada tingkat provinsi; dan

8.     Meningkatkan kualitas aparatur yang kompeten dengan dukungan ketersediaan sarana dan prasarana yang dimiliki.

 


 

Arah Kebijakan Penanaman Modal di Provinsi Kalimantan Selatan

1.   Arah Perbaikan Iklim Penanaman Modal

a.   Penguatan kelembagaan penanaman modal dengan menyatukan fungsi pelayanan perizinan dan nonperizinan dengan penanaman modal untuk Provinsi Kalimantan Selatan dan 8 kabupaten di Kalimantan Selatan. Dimana penyelenggaraan fungsi Pelayanan Terpadu Satu Pintu Bidang Penanaman Modal (PTSP-PM) diikuti dengan mendapat pendelegasian atau pelimpahan wewenang dari Gubernur yang memiliki kewenangan perizinan dan nonperizinan bidang penanaman modal di tingkat provinsi atau dari Bupati/Walikota di tingkat kabupaten/kota.

b.   Pembangunan dan implementasi Sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu Bidang Penanaman Modal (PTSP-PM).

c.   Menetapkan pemberian fasilitas/insentif penanaman modal yang sinergis.

 

2.   Arah Kebijakan Mendorong Persebaran Penanaman Modal

a.   Penetapan RTRW Provinsi Kalimantan Selatan.

b.   Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan strategis, yaitu: (1) Kawasan Industri Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kawasan Strategis Provinsi (KSP) Industri Jorong dan Pelabuhan Swarangan Pelaihari di Kabupaten Tanah Laut termasuk dalam Kawasan Industri Quick Wins (Prioritas) RPJMN 2015-2019; (2) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mekar Putih Kabupaten Kotabaru; (3) Kawasan Lingkungan Industri Kecil (LIK) di Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru; dan (4) Kawasan Minapolitan berdasarkan Kepmen Kelautan dan Perikanan Nomor 39 Tahun 2011, yaitu di: Kabupaten Banjar; Kabupaten Hulu Sungai Utara; Kabupaten Tabalong; Kabupaten Kotabaru; Kabupaten Tanah Laut; dan Kabupaten Tanah Bumbu.

 

3.   Arah Kebijakan Fokus Pengembangan Pangan, Infrastruktur, dan Energi

a.   Pengembangan pangan dan agroindustri.

b.   Percepatan pembangunan infrastruktur, terutama yang sudah dicanangkan dalam RPJMN 2015-2019, terutama realisasi pelaksanaan proyek-proyek yang sudah ground breaking, yaitu: pengembangan Bandara Syamsudin Noor; pembangunan Bendungan Pipitak Jaya di Kabupaten Tapin; pembangunan Jembatan Laut Pulau Kalimantan dengan Pulau Laut Kabupaten Kotabaru; penyelesaian eks lahan KAPET Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu.

c.   Pengembangan energi baru dan terbarukan.

 

4.   Arah Kebijakan Penanaman Modal yang Berwawasan Lingkungan (Green Investment)

a.   Penegakan hukum jelas dan tegas atas kegiatan yang merusak lingkungan hidup dan alam.

b.   Pengolahan limbah sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan sampah kota menjadi sumber energi baru.

c.   Pemetaan dan penyediaan lahan kritis dan lahan menganggur.

5.   Arah Kebijakan Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi (UMKMK)

a.   Pemutakhiran data UMKMK dan komoditas/produk yang potensial untuk ditawarkan kerjasama dengan usaha besar.

b.   Penerapan teknologi sederhana tepat guna dan kemudahan akses teknologi.

c.   Pembangunan jaringan distribusi lokal ke global.

d.   pengembangan dan penguatan klaster UMKMK berbasis ekspor.

e.   Memanfaatkan instrumen Corporate Social Responsibility (CSR).

 

6.   Arah Kebijakan Pemberian Fasilitas, Kemudahan dan/atau Insentif Penanaman Modal.

      Arah kebijakan ini adalah kepada percepatan fasilitasi dan kemudahan pelayanan penananam modal.

 

7.   Arah Kebijakan Promosi Penanaman Modal

a.   Penguatan koordinasi dan kemitraan yang efektif.

b.   Peningkatan kualitas promosi investasi daerah.

 

Kebijakan Dasar Penanaman Modal Provinsi Kalimantan Selatan

1.     Meningkatkan pemanfaatan potensi sumberdaya lokal, baik sumberdaya alam, sumberdaya manusia, maupun sumberdaya lainnya tanpa mengabaikan peranan potensi yang berasal dari luar dan membangun hubungan yang sinergis antar potensi-potensi tersebut.

2.     Meningkatkan efisiensi perekonomian melalui pengelolaan sumberdaya perekonomian yang efektif di semua sektor sehingga dapat meningkatkan produktivitas perekonomian daerah secara berkelanjutan dengan memanfaatkan peran teknologi yang layak dan sesuai dengan tata kelola yang baik.

3.     Menciptakan dan menjamin adanya kepastian hukum dan pelaksanaannya, kepastian berusaha dari proses pra sampai dengan pelaksanaan penanaman modal hingga penyelenggaraan usaha sehingga akan menumbuhkan peningkatan efisiensi usaha dan perekonomian di daerah.

4.     Memberikan perlakuan sama dalam memberikan pelayanan dan fasilitas sebagaimana yang dimungkinkan menurut peraturan perundang-undangan kepada semua penanam modal, baik investor dalam negeri maupun investor luar negeri.

5.     Mendorong peningkatan pemanfaatan dan peningkatan kualitas tenaga kerja, sehingga semakin besar peluang kerja yang dapat dipenuhi oleh tenaga kerja lokal dan produktivitas tenaga kerja yang semakin meningkat serta peluang kerja yang semakin responsif terhadap penyerapan tenaga kerja.

6.     Mendorong para penanam modal untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja yang dipekerjakan melalui berbagai program peningkatan keterampilan dan mempercepat proses alih teknologi kepada tenaga kerja lokal.

7.     Menyediakan informasi bidang usaha yang masih terbuka dan mendorong peningkatan penanaman modal pada semua bidang usaha yang masih terbuka yang tersusun dalam daftar usaha berdasar pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI).

8.     Mendorong tumbuhnya Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi (UMKMK) melalui: peningkatan kemudahan dalam mendapatkan akses terhadap sumber-sumber pembiayaan; meningkatkan akses pemasaran atas komoditas dan produk-produk yang dihasilkan; penyediaan dan peningkatan akses untuk memperoleh informasi, peningkatan kemampuan teknologi, peningkatan kemampuan manajerial, dan perlindungan bidang usaha yang dikhususkan bagi UMKMK; serta mendorong pemanfaatan instrumen Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan yang berada di daerah masing-masing untuk lebih diarahkan pada peningkatan kapasitas dan produktifitas UMKMK yang bergerak di sektor-sektor yang diprioritaskan oleh daerah

9.     Meningkatkan efektifitas dan efisiensi perizinan usaha sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku melalui transparansi pelayanan, percepatan pelayanan, kepastian pembiayaan, dan kesesuaian dengan kebutuhan penanaman modal.

10.   Meningkatkan efisiensi, akselerasi, fleksibilitas dan keterkaitan antar industri dengan mengembangkan kluster-kluster industri.

11.   Mengintensifkan koordinasi kebijakan, pelaksanaan kebijakan penanaman modal yang meliputi tugas-tugas pelayanan, pengembangan peluang dan potensi, promosi, peningkatan kemitraan, peningkatan daya saing dan diseminasi serta penyebaran informasi dengan pemerintah daerah dan instansi lain di luar pemerintah.

Para pihak terkait dan yang berkepentingan dengan peningkatan dan percepatan penanaman modal di daerah perlu lebih mengintensifkan koordinasi untuk tidak hanya sampai pada level siap, tetapi sudah mencapai level kompeten dalam upaya ini.

 

Strategi Pengembangan Penanaman Modal Provinsi Kalimantan Selatan

Strategi pengembangan penanaman modal disusun dengan mempertimbangkan dan mendasarkan pada potensi dan kekuatan sumberdaya yang tersedia, karakteristik industri berdasarkan skala usaha, karakteristik sektoral maupun kewilayahan sehingga dapat dikembangkan keunggulan relatif maupun keunggulan kompetitif. Strategi ini ditempuh dengan menerapkan tiga pendekatan: yaitu: (1) pendekatan kelembagaan; (2) pendekatan sektoral; dan (3) pendekatan wilayah.

 

Pendekatan kelembagaan bertujuan untuk semakin mendorong perkuatan kelembagaan baik berkaitan dengan peraturan yang kondusif maupun institusi usaha (besar/sedang), khususnya juga pada usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi (UMKMK). Sedangkan pendekatan sektoral bertujuan untuk semakin mendorong pertumbuhan ekonomi dan keseimbangan perkembangan sektor-sektor ekonomi terutama sektor-sektor unggulan di berbagai kawasan di Provinsi Kalimantan Selatan sehingga mampu menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang semakin besar dan meningkatkan daya saing. Disamping itu, pendekatan ini juga bertujuan untuk meningkatnya daya saing pada semua sektor, baik pada sektor primer, sekunder maupun tersier. Selanjutnya pendekatan wilayah, bertujuan untuk semakin mendorong tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan berbagai kawasan di Provinsi Kalimantan Selatan sehingga mampu sebagai pengungkit daerah sekitarnya. Disamping itu, pendekatan ini akan mampu mendorong pemerataan antar wilayah dan mengurangi kesenjangan antar wilayah.

 

Tahapan

Ada 4 (empat) tahap (fase) yang dapat dilakukan secara paralel dan simultan mulai dari tahap jangka pendek menuju tahap jangka panjang dan saling berkaitan satu dengan lainnya. Dimana pondasi utama untuk mengimplementasikan RUPM Provinsi Kalimantan Selatan adalah merealisasikan (mewujudkan) Arah Kebijakan Perbaikan Iklim Penanaman Modal dengan fokus utama merealisasikan Penguatan Kelembagaan Penanaman Modal Daerah. Hal ini terkait bahwa kegiatan perizinan maupun nonperizinan penanaman modal yang mudah, cepat, tepat, akurat, transparan dan akuntabel serta kepastian hukum merupakan kondisi yang menjamin kepastian merealisasikan kegiatan investasi khususnya di Kalimantan Selatan. Penyelenggaraan fungsi Pelayanan Terpadu Satu Pintu Bidang Penanaman Modal (PTSP-PM) merupakan solusi efektif dalam rangka mewujudkan iklim penanaman modal yang berdaya saing untuk menunjang kualitas perekonomian nasional.

 

Tahap I (2016-2017):   Penguatan Kelembagaan Penanaman Modal Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota di Kalimantan Selatan dan Pengembangan Penanaman Modal yang Relatif Mudah dan Cepat Menghasilkan (Quick Wins and Low Hanging Fruits)

 

Implementasi Tahap I (2016-2017) dimaksudkan sebagai pondasi utama untuk mendukung tahapan selanjutnya dari RUPM Provinsi Kalimantan Selatan 2016-2025. Implementasi Tahap I dimaksudkan untuk mencapai prioritas penanaman modal jangka pendek, yaitu 2 (dua) tahun ke depan. Pada fase ini kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, antara lain: merealisasikan penguatan kelembagaan penanaman modal daerah; mendorong dan memfasilitasi penanam modal yang siap menanamkan modalnya, baik penanaman modal yang melakukan perluasan usaha atau melakukan penanaman modal baru; penanaman modal yang menghasilkan bahan baku/barang setengah jadi bagi industri lainnya; penanaman modal yang mengisi kekurangan kapasitas produksi atau memenuhi kebutuhan di dalam negeri dan subtitusi impor; serta penanaman modal penunjang infrastruktur.

 

Tahap II (2018-2020): Percepatan Pembangunan Infrastruktur dan Energi

Implementasi Tahap II dimaksudkan untuk mencapai prioritas penanaman modal jangka menengah (2018- 2020). Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah penanaman modal yang mendorong percepatan infrastruktur fisik (termasuk infrastruktur pendukung wilayah/kawasan peruntukan industri dan kawasan industri seperti jalan, listrik/energi, instalasi pengolahan limbah dan air bersih), diversifikasi, efisiensi, dan konversi energi berwawasan lingkungan. Pada tahap ini juga dipersiapkan kebijakan dan fasilitasi penanaman modal dalam rangka mendorong pengembangan industri hilir (hilirisasi industri) skala besar yang memanfaatkan keunggulan komparatif sumberdaya alam dan energi menjadi keunggulan kompetitif Kalimantan Selatan, antara lain: industri pengolahan batubara; industri turunan lanjutan kelapa sawit dan karet; serta industri semen dan baja.

 

Tahap III (2021-2025): Pengembangan Industri Skala Besar

Pelaksanaan Tahap III dimaksudkan untuk mencapai dimensi penanaman modal jangka panjang (2021-2025). Pelaksanaan tahap ini baru bisa diwujudkan apabila seluruh elemen yang menjadi syarat kemampuan telah dimiliki, seperti tersedianya infrastruktur yang mencukupi, terbangunnya sumberdaya manusia yang handal, terwujudnya sinkronisasi kebijakan penanaman modal pusat-daerah, dan terdapatnya sistem pemberian kemudahan dan/atau insentif penanaman modal yang berdaya saing.

 

Tahap IV: Pengembangan Ekonomi Berbasis Pengetahuan (Knowledge-based Economy)

Pelaksanaan Tahap IV dimaksudkan untuk mencapai kepentingan penanaman modal setelah tahun 2025 pada saat perekonomian Kalimantan Selatan sudah tergolong maju. Pada tahap ini, fokus penanganan adalah pengembangan kemampuan ekonomi ke arah pemanfaatan teknologi tinggi ataupun inovasi.

 

Penutup

Tidak dapat dipungkiri tersebut peran pemerintah menjadi sangat penting dalam setiap proses penanaman modal, bahkan rekomendasi pemerintah daerah merupakan syarat mutlak dalam penilaian kegiatan investasi di daerah dinyatakan layak. Hal tersebut terkait pula dengan masalah pemanfaatan tata ruang, gangguan lingkungan dan ketertiban umum.

 

Iklim penanaman modal atau investasi bukan hanya dipertimbangkan pada awal rencana investasi oleh investor, akan tetapi merupakan hal strategis yang akan menentukan keberhasilan investasi sepanjang perusahaan berjalan. Faktor-faktor ekonomi seperti infrastruktur dasar, kebijakan sektoral, kebijakan perpajakan, tingkat suku bunga, dan regulasi perbankan mempunyai pengaruh terhadap kegiatan penanaman modal.

 

Disamping pertimbangan faktor-faktor ekonomi yang menjadi penentu investasi, pertimbangan non ekonomi seperti jaminan keamanan, stabilitas politik, penegakan hukum dan sosial budaya merupakan faktor penentu yang tidak kalah pentingnya untuk menentukan keberhasilan investasi. Beberapa keadaan dan kondisi yang mendukung iklim penanaman modal di Provinsi Kalimantan Selatan harus terus dipelihara dan ditingkatkan kondusifitasnya. Sedangkan beberapa keadaan dan kondisi yang bisa mengganggu iklim penanaman modal harus diantisipasi lebih dini dan diminimalkan dampaknya kalaupun itu terjadi.


Galeri

NA RUPM KALSEL

Data Potensi

Provinsi Kalimantan Selatan

Link Terkait



Link PDKPM


Buku Tamu

@pSQQsJLOycnlbWCUPqI

aEyaob pdyspxjyfqbq, [url=http://xyqgsmseoapk.com/]xyqgsmseoapk[/url], [link=http://bzxhnnhydncf.com/]bzxhnnhy

@JimmiNu

MMOy7z http://www.FyLitCl7Pf7ojQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com

@JimmiNu

3npnkt http://www.FyLitCl7Pf7ojQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com

@JimmiNu

VHRtED http://www.FyLitCl7Pf7ojQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com

@JimmiNu

A1jopJ http://www.FyLitCl7Pf7ojQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com

@JimmiNu

98dfDz http://www.FyLitCl7Pf7ojQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com

@JimmiNu

vHnAsz http://www.FyLitCl7Pf7ojQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com

@JimmiNu

vRIZzW http://www.FyLitCl7Pf7ojQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com

@EWRyQStSpnuBbhhexuJ

UF20pr tpnnpkgpsncz, [url=http://vjpyieaaajgb.com/]vjpyieaaajgb[/url], [link=http://zfkwdmgulmpc.com/]zfkwdmgu

@oDFBqRRlwLOOztQ

SjhF7O dtziyyeygsje, [url=http://luonisarbkdv.com/]luonisarbkdv[/url], [link=http://gurttzlybjoi.com/]gurttzly

@Barnypok

9aJLAl http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

cvD5nt http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

wSFAgX http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

Dk2kuq http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

6F1dT5 http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

dYAgF5 http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

v0B9Q7 http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

VGrz0K http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

mCmawp http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

uZN63S http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

MU9IkV http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

N2JgqN http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

cjpUN0 http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

YDs2f7 http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

z1wBgq http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

Xk75aY http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

oqs3P5 http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

CWjnMK http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

BAtcfc http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

PWROgn http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

A7JTKL http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

ryfNoV http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

BSDylb http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

qBMKhv http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

WY0Tsv http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

1DXhNn http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

RqYy1o http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

Sf1Rga http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

YW3ETg http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

35HOks http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

LaedBu http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

UJRjLB http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

HoYhp9 http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

kPW7vO http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

jJj9u8 http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

7Nx5no http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

ACzfIv http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

V2Hb33 http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

c11AEK http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

C6H7SX http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

Uqzdio http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

lTs7Zm http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

vEjiHB http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

Ap02Ss http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@JimmiXzSq

EBbHZW http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@khairunnisa

Assalamualaikum. Saya mahasiswi UMM, saya memerlukan data realisasi investasi perkab/kota di kalimantan selatan pada tahun 2011, krn tidak ada di da

@amalia

Saya memerlukan data investasi kalsel tahun 2015 2016 pak

@Putri dinar

selatan dari tahun 1999-2015 apakah bisa melalui email? saya memerlukan data tersebut pak. terima kasih

@Putri dinar

Selamat siang, saya putri dinar mahasiswi universitas gunadarma jakarta. Ingin bertanya jika ingin mendapatkan data realisasi PMA dan PMDN kalimantan

@Barnypok

YFOjsI http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

ddUsCH http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

xVqyOu http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

qMas7J http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

L7leIJ http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

hD3Iik http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

vBXv3H http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

TCitDy http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

zACscO http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

5hiZpK http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

EwHEZN http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

SExJUg http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

MDwTnL http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

R1FBqy http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

1uYO8o http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

OZthon http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

7Jqgmn http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

WGYEUg http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

5ZETlN http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@Barnypok

OmuNhM http://www.LnAJ7K8QSpkiStk3sLL0hQP6MO2wQ8gO.com

@hUQIkxxM

cr346467rhsvczxvmkaskoADKM FD453456YGFFFFdd bvu67i4yhgfdh

@Anggit Septiawan

Semoga BKPM Kalsel menciptakan lapangan kerja sebesar-besarnya untuk mengurangi angka pengangguran.

@JimmiXzSw

e3h63i http://www.FyLitCl7Pf7ojQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com

@JimmiXzSw

T1LSos http://www.FyLitCl7Pf7ojQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com

@JimmiXzSw

ACTBD1 http://www.FyLitCl7Pf7ojQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com

@JimmiXzSw

GmWWEf http://www.FyLitCl7Pf7ojQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com

@JimmiXzSw

NQTiMu http://www.FyLitCl7Pf7ojQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com

@JimmiXzSw

nMEUb1 http://www.FyLitCl7Pf7ojQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com

@Muhammad noor

Ulun pambakal desa sungai rangas tengah kec.martapura barat kab.banjar kalsel Desa uln telah menjadwalkan utk thn 2017 ini beberapa event/pestifal di

@nasrul

bisa dikirmin data statistik nya

@abi safari rahman

assalam mualaikum. saya mau tanya. bagaimana cara mendapatkan bantuan modal untuk petani kecil yang menanam jenis sayuran (seperti saya ini)?? sebab

@muhammad hanif

Bagaimana cara meminta bantuan modal bagi peternakan lele di kotabaru.? Terimakasih.

@BRENDA ELLYSE SANGARI

untuk daftar perusahaan karet yang ada di alimantan selatan ditambah 1 lagi, bertempat di batulicin kabupaten tanah bumbu. PT. Nusantara Batulicin pe

@H.bahrianor

Promosi kan terus potensi kalsel yang ada guna meningkatkan arus investasi dimasa yang akan datang selalu mendapat peningkatan

@M. Alpian Noor

Mudah-mudahan BKPMD menjadi Badan yang terbaik di Kalsel & menjadi contoh bagi Provinsi lain ^^

@Baihaqi

tolong informasikan berita terbaru

@Ferie Nunci

Semoga BKPMD mampu menjadi badan yang dapat menarik para investor untuk ber investasi di banua tercinta Kalimantan Selatan... :)

@nduaksan

welcome


Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah Provinsi Kalimantan Selatan ©2015